Berawal dari malam itu kepulanganku kerumah yang larut malam membuatku medapatkan pengalaman yang tidak terlupakan, perkenalkan namaku Sansan aku adalah salah satu mahasiswi di salah satu PTN Bandung, saat ini aku masih semster 6, aku sangat giat belajar hingga suatu hari aku belajar kelompok hingga larut malam, saat itu waktu sudah menunjukan jam 11 malam, padahal gerbang kos sudah tertutup dua jam yang lalu.
Saat mencari kunci yang ada ditasnya dia disapa oleh penjaga kos yang bernama Pak Tomi, “neng Sansan baru pulang atuh jam segini?” eh Pak Hei iya nih Pak habis ngerjain tugas kelompok soalnya besok dikumpulin, samil berjalan menuju kamarnya Sansan teringat bahwa lampu kamarnya mati dan belum sempat untuk mengganti.
Teriak Sansan kepada Pak Tomi “Pakk Tomi minta tolong dong” dengan nada yang agak keras karena kamar dan pos jaga lumayan jauh jaraknya, Pak Tomi pun medatangi kekamar Sansan ”ada apa neng kok teriak teriak”
“ini Pak boleh minta tolong untuk beliin lampu, soalnya saya lupa beli waktu keluar tadi”
Jawab Pak Tomi “sini aku belikan neng warung didepan masih buka kok”
Sansan mengeluarkan selembar uang 20rb. “Beli yang bagus ya Pak. Kembaliannya ambil saja.”
“Sip, Neng.”, Ujar Pak Tomi sambil mengambil uang dan berjalan pergi.
“Oia, Pak. Tolong sekalian dipasang ya Pak. Langit-langitnya tinggi. Saya mau mandi, nanti langsung masuk saja. Pintunya ga dikunci.”
Cerita Seks - Bercinta di warnet
Pak Tomi mengangguk sambil terus berjalan. Pak Tomi berusia sekitar 50 tahun. Pipinya yang tirus membuatnya terlihat tua. Selain menjadi penjaga kosan, Ia juga bertani di sawah belakang kosan. Itu sebabnya warna kulitnya terlihat sangat gelap kecoklatan. Sansan memasuki kamar, menutup pintu, dan mulai membuka pakaiannya satu persatu.
Ia membuka kaos dan jins yang dipakainya sejak pagi hari. Melemparkannya ke tumpukan pakaian kotor. Dengan BH dan celana dalam Sansan berjalan ke kamar mandi kemudian menyalakan keran air. Pintu kamar mandi ditutup.
Sansan melepas BH dan celana dalam, meletakkannya di ember yang khusus disediakan untuk pakaian dalam.
Ia mulai mengguyurkan air dari ujung kepala. Segar sekali rasanya ketika tetesan-tetesan air membasuh rambut, wajah, leher, pundak, dan payudaranya. Beberapa tetesan kecil menyentuh puting Sansan yang berwarna merah muda.
Ia kembali mengguyur tubuhnya, kali ini air membasuh perut, paha, dan bongkahan pantat Sansan yang begitu mulus berwarna putih bersih. Sedikit tetesan air dengan genitnya menjalar ke selangkangan Sansan, menyapu kulit vagina yang tembam, merangsek ke sela-sela vagina seperti sebuah lidah yang ingin menjilat klitoris.
Sansan mulai membersihkan tubuhnya dengan sabun cair. Dioleskan sabun cair di dada dan payudaranya. Ia menggosok perlahan sambil mengelus-elus payudaranya. Tiba-tiba darahnya mengalir lebih cepat. Ada gelombang nafsu yang mulai menguak dari dalam diri Sansan.
Tidak biasanya Ia menjadi nafsu karena sentuhan tangannya sendiri, mungkin karena sudah 1 bulan lebih tidak ada yang merambah tubuh indahnya. Elusan tangan kanan ke payudaranya mulai berubah menjadi remasan, sementara tangan kirinya bergerak menyentuh vagina yang sudah tidak sabar ingin dimanja. “Mmpphhhh…” eluh Sansan keluar dari mulutnya.
Sudah lebih dari 1 bulan yang lalu Sansan putus dengan Jaka. Laki-laki kedua yang pernah bersetubuh dengan Sansan. Sansan mengakui bahwa Jaka lebih pintar dalam urusan sex ketimbang pacar pertamanya.
Dan itu yang membuat Sansan selalu ingin bersama Jaka, hingga suatu hari Sansan mengetahui ternyata jaka berselingkuh. Mengingat kejadian perselingkuhan Jaka, seketika itu emosi Sansan muncul. Nafsu yang melanda sebelumnya hilang begitu saja. Sansan bersegera menyelesaikan mandinya. Ia membasuh sabun-sabun di tubuhnya.
Saat ingin mengeringkan tubuh dengan handuk, Sansan baru tersadar handuknya tidak ada. Ia biasa melakukan hal seperti ini – tidak membawa handuk ke kamar mandi. Sansan membuka pintu kamar mandi. Dengan sangat terkejut, Sansan melihat sosok seorang pria tua, berwajah tirus, berkulit coklat tua, sedang duduk di ranjang sambil melihat tubuh Sansan yang tanpa busana.
Tubuh Sansan kaku tak bergerak akibat syok, wajahnya memerah karena malu. Sementara Pak Tomi masih terus menatap Sansan. Tubuh Sansan yang masih basah terlihat kemilau akibat pantulan cahaya. Payudaranya membusung, meneteskan air tepat dari puting merah mudanya. Dari vaginanya yang seolah mengintip Pak Tomi terlihat mengucurkan air sisa pembersihan tubuh Sansan. Sansan berusaha menguasai kembali tubuhnya. Setelah kesadarannya pulih, dengan cepat Sansan kembali masuk ke kamar mandi. Menutup rapat pintu kamar mandinya.
“Ma… maaf Pak. Saya lupa handuknya. Bisa tolong ambilkan di meja?” minta Sansan dengan suara gemetar. Klek.. Sansan seperti mendengar suara pintu terkunci. Suaranya begitu samar hingga ia tidak yakin betul.
“Ini, Neng.” Ujar Pak Tomi dari balik pintu kamar mandi.
Sansan membuka sedikit celah kamar mandi, menjulurkan tangannya mengambil handuk dari tangan Pak Tomi. Ia segera mengeringkan tubuhnya.
Sansan keluar berbalut handuk – yang sialnya adalah handuk kecil. Handuk yang ia kenakan tidak mampu melilit seluruh tubuhnya. Ujung handuk ia pegang dengan tangan kiri, sementara sedikit celah memperlihatkan pinggul dan paha Sansan.
Dada Sansan pun tidak tertutup dengan baik, belahan indah payudara dan sedikit tepian puting berwarna merah muda mencuat begitu menggoda. Handuk bagian bawah hanya menutupi sekitar 5 cm ke bawah dari vagina Sansan. Sansan berjalan perlahan, mata Pak Tomi tidak sedetik pun lepas dari tubuh Sansan.
“Ee.. Neng, itu lampunya sudah saya pasang.” Ujar Pak Tomi sambil berdiri memecah kebisuan.
“Iya, pakk..” jawab Sansan pelan, “Maaf Pak, saya mau pakai baju.” Lanjut Sansan, berharap Pak Tomi sadar untuk meninggalkan kamarnya.
“Oh, iya Neng. Tapi saya boleh pinjam kamar mandi? Mau buang air kecil.” Pinta Pak Tomi.
“Bukannya di luar ada pak yang biasa dipakai.” Sergah Sansan sedikit kesal.
“Kebelet Neng. Sebentar kok.” Dengan cepat Pak Tomi masuk kamar mandi tanpa menunggu persetujuan Sansan.
Sansan mendengar kucuran air seni Pak Tomi begitu deras. Segera ia mananggalkan handuk menggantinya dengan daster favoritnya.
Tak lama Pak Tomi keluar. Bejalan menghampiri Sansan.
“Neng Sansan, yang bisa dibantu lagi?” Tanya Pak Tomi. Sekarang ia telah berdiri tepat di depan Sansan. Belum sempat Sansan menjawab pertanyaan tersebut, Pak Tomi mengelus rambut Sansan .
“Bapakkk…” ujar Sansan sambil berjalan mundur menghindari tangan kasar Pak Tomi.
Pak Tomi terus mendekati Sansan , sementara Sansan terus mundur menghindar hingga tubuhnya terbentur tembok. Pak Tomi merapatkan tubuhnya ke Sansan yang sudah terpojok.
“Pak, jangan pak.” Lirih Sansan . Sementara tangan Pak Tomi kembali mengelus rambut Sansan yang wangi itu.
“Tenang aja neng. Itu neng Sasha juga lagi asik sama pacarnya. Kita jangan kalah dong.” Kata Pak Tomi dengan tenang penuh keyakinan.
“Pak, tolong pak. Jangan. Saya teriak kalau bapak bagini terus.” Papar Sansan penuh ketegaran di tengah posisinya yang tidak baik itu.
“Neng mau teriak? Lalu orang-orang datang. Saya diusir. Tapi besoknya saya ke sini sama temen-temen lho. Khusus buat Neng Sansan .” Ancam Pak Tomi penuh kemenangan.
Sansan terteguh mendengar ancaman itu. Membayangkan dirinya dikroyok orang-orang sekelas Pak Tomi. Mengerikan. Sansan bukan termasuk wanita hipersex, ketika ketakutan melanda pikiran Sansan Pak Tomi melanjutkan kata-katanya.
“Sudah lah neng. Biasanya juga sama pacarnya kan. Kalau tidak salah udah lebih dari 1 bulan ga diservis ya neng? Sini sama bapak aja.” Pak Tomi terus meraba Sansan , kali ini lengan Sansan menjadi sasaran.
Bulu kuduk Sansan merinding ketika kulit putih mulusnya bersentuhan dengan tangan Pak Tomi. Ditambah lagi kata-kata Pak Tomi tentang aktivitas sexnya benar-benar membuat Sansan malu. Wajahnya merah padam.
“Pak sudah pak. Jangan pak. Tolong.” Dengan wajah nanar Sansan memohon.
Pak Tomi menekan tubuh Sansan ke bawah. “Isepin kontol bapak ya neng.” Pinta Pak Tomi. Dalam posisi berjongkok, Sansan kebingungan harus bagaimana. Tentu ia pernah menghisap penis tetapi bukan dalam keterpaksaan seperti ini.
“Ayo neng. Turunin dulu celana bapak. Trus isep. Ga perlu saya kasarin kan supaya neng mau. Ato ga harus saya panggil temen-temen saya kan.” Pak Tomi kembali mengancam dengan sikap begitu tenang.
Sansan mulai menurunkan celana pendek Pak Tomi. Tangannya gemetar, keringat dingin mengucur dari pori-pori kulitnya. Sansan terus menarik hingga kaki Pak Tomi, ia menatap celana yang telah terlepas tanpa melirik ke atas.
“Ayo neng, liat ke atas dong.” Perintah Pak Tomi sambil tertawa pelan.
Sansan mengangkat wajahnya. Terkejut melihat sebuah penis yang sudah keras tidak lagi ditutupi celana dalam mengacung tepat mengarah ke wajahnya. “Baa… pak ga pake celana dalam?” pertanyaan polos keluar dari mulut Sansan. “Itu ada di kamar mandi. Sama baju dalam kamu yang lain.” Jawab Pak Tomi sambil terkekeh.
Pak Tomi memajukan penisnya. Kepala penisnya menyentuh bibir Sansan yang manis. “Dibuka neng bibirnya.” Pinta Pak Tomi. Sansan membuka mulutnya dengan penuh keraguan. Penis Pak Tomi mulai masuk dengan perlahan ke mulut Sansan.
Pak Tomi mulai menggoyang-goyangkan penisnya menyodok mulut Sansan, dengan kedua tangannya yang menggenggam kepala Sansan. Sementara itu kedua tangan Sansan memegang kaki Pak Tomi sambil berusaha melepaskan diri. Mphhh….. mpphhhh… penolakan Sansan hanya terdengar seperti lenguhan.
“Ahhh…. Achhh… bibirnya enak banget neng. Ahhh.. terus neng.” Rancau Pak Tomi sambil terus menggoyangkan pantatnya. Berselang 2 menit kemudian. Pak Tomi berhenti mengocok penisnya, tetapi ia membiarkan penis hitamnya tetap di dalam mulut Sansan. Nafas Sansan mulai terengah-engah. “Neng, lidahnya mainin dong di dalam.”
Pinta pak Tomi, “Achh… iyaaahhh.. gitu neng… pinter bangettt.. achhhh….” Lidah Sansan bergoyang-goyang mengelus-elus penis di dalam mulutnya dengan lembut. Kepala penis Pak Tomi selalu tersentuh lidah Sansan. Sesekali ada hisapan yang Sansan lakukan. Pak Tomi semakir merancau menikmati penisnya dalam mulut Sansan .
“Sudah Neng Sansan. Saya ga kuat sama lidah neng. Ahhh….” Pak Tomi mengangkat tubuh Sansan.
“Pacar neng untung banget dapetin neng. Cantik, mulus, jago ngisep kontol.” Pak Tomi mulai kembali mengelus lengan Sansan yang tidak tertutupi.
“Pak sudah pa. haahhh… jangan dilanjutkan pak.” Keluh Sansan dengan wajah memelas meminta menyudahi permainan Pak Tomi dengan nafas terengah-engah. Pak Tomi menyibakkan rambut Sansan kebelakang, lehernya yang jenjang terbuka lebar dengan sigap Pak Tomi mulai mencium lembut dan menjilat leher Sansan, sementara tangannya meraba perut Sansan.
“Mpphhhh… pak, sudaahh.. ahh.. mpphhh..” Gejolak nafsu mulai melanda Sansan, namun ia tetap berusaha menahannya sekuat tenaga. Pak Tomi membalikkan tubuh Sansan, ia menyibak rambut yang menutupi leher dan tungkuk. Pak Tomi kembali menciumi sambil menjilat bagian sensitif Sansan tersebut. “ahhh… pak hentikannn.. mmppphhhh.”
Pak Tomi mendekatkan bibirnya ke kuping Sansan “Neng Sansan ini seksi sekali. Tadi saya intip dari etalase waktu neng mandi. Enak ya neng ngeremes tetek sendiri. Saya bantu ya sekarang.” Bisik lebut Pak Tomi ke telinga Sansan. Mendengar bisikan itu Sansan seperti kehilangan harapan. Dilihat tanpa busana, ketahuan ML, dan sekarang ia tahu Pak Tomi melihat saat ia akan masturbasi.
“Saya remes ya neng teteknya.” Jemari Pak Tomi merambat menuju 2 payudara Sansan . Saat jemari menyentuh payudara. “Lho, ga pake BH, neng?!” Tanya Pak Tomi dengan sedikit terkejut. “Jangan-jangan?!” dengan cepat tangannya menyibak daster membuka bongkahan pantat Sansan . “Wah, si Neng bisa aja.
Bilang ga mau tapi udah siap-siap gini.” Ledek Pak Tomi. “Kan, mau tidur pak.” Ujar Sansan membela diri dengan percuma sambil membalikan wajah sementara jarinya tergigit di mulutnya.
Pak Tomi sibuk meremas pantat, sementara tangan kirinya meremas payudara Sansan. Posisi berdiri Sansan yang sedikit menungging semakin membuat seksi tubuhnya. “Paakkkk…”, “Iya Sansan”, “Sudah ya mpphhh.. pakkk..”, “Yakin neng?” jemari Pak Tomi menyentuh bibir vigina Sansan.
“Achhh… paa..”. tangan Pak Tomi menjulur ke wajah Sansan, memperlihatkan jemarinya yang tadi menyentuh bibir vagina Sansan.
“Neng Sansan, ko basah ya?” canda Pak Tomi. Sansan menatap Pak Tomi sambil tersenyum malu.
“Bapak jahat ih.” suara manja terlontar dari mulut Sansan yang sebelumnya diisi penis Pak Tomi.
Tangan Pak Tomi kembali mengelus pinggul Sansan. Sambil menciumi leher, Pak Tomi berbisik,
“Neng Sansan , mau dilanjutin ga ni?”,
“Mmmpphhh.. lanjutin apa pakkk?”, “n.g.e.n.t.o.t”, “ih, acchhh.. bapakkk..” tangan Pak Tomi mulai meremas payudara Sansan . “Iya pakkk.. lanjutinnnn paak.. aahhh..”
“Pakkk.. aku mau ciuman yah.” Pak Tomi mendekatkan wajah. “Mmpphhh.. pak, kontolnya aku pegang yah.. aku suka banget sama kontol bapak.” Bujuk Sansan.
Pak Tomi dan Sansan mulai saling berciuman. Lidah mereka saling melipat, bergesekan dengan lembut. Meningkatkan birahi keduanya. Mmpphhh…. Mmpphhhh…
“Pak gendong aku ke kasur ya.” Pak Tomi langsung mengangkat Sansan , merebahkannya ke atas kasur.
Sansan menatap Pak Tomi . “Pak, aku malu. Kayak cewe murahan.”, “Ngga ko neng. Nikmatin aja.”, Pak Tomi kembali melibas bibir Sansan. Mmpphhhh… desah Sansan, yang mulai tidak ditahan lagi. “Pak Tomi. Mmphhh.. telanjangi aku. Mphh..”
Pak Tomi mulai mengangkat daster Sansan, vagina Sansan yang tembam ditutupi rambut-rambut tipis tercukur rapih. Pak Tomi tak henti menatap tubuh Sansan yang terbuka perlahan, memperlihatkan keindahannya.
Sansan mengangkat tangannya. Membiarkan daster favoritnya terlepas dari tubuh yang sekarang tidak tertutupi sehelai kain pun. Payudara Sansan yang tidak terlalu besar membusung dengan puting menegang, seakan meminta dijamah. Pak Tomi memulai kembali dengan menciumi dan menjilati leher Sansan.
Lenguhan terlepas dari mulut Sansan, darah mendesir lebih cepat. Pak Tomi menurunkan ciumannya ke payudara Sansan. Menjilat turun di sisi payudara, berputar mengelilingi payudara Sansan.
“eeuhhh.. pak, aku nafsu bangettt…” rancu Sansan memohon Pak Tomi meningkatkan agresivitas. Pak Tomi menjilat kecil puting Sansan yang sudah sangat keras. Ia memberi kecupan kecil. “Neng Sansan, putingnya keras banget.” Ujar Pak Tomi sambil menatap Sansan yang sedang memejamkan mata.
“mmpphhh.. iya pak. Emut puting aku pakkk.. remesss…” pinta Sansan.
Pak Tomi mengemut puting Sansan sambil memainkan lidahnya, sementara tangan kanannya merepas payudara Sansan yang lain. “aahhh… eemmmppp… enaakkk pakk..” Sansan meremas rambut Pak Tomi, menekan kepala Pak Tomi ke payudaranya. “uughhh… pakk, mau ngentottt. Mauu kontolll.. aahhh..” rancu Sansan tak terkendali. Ia melepas cengkraman dari kepala Pak Tomi.
Pak Tomi mengangkat tubuhnya melepaskan mulutnya dari puting Sansan. Ia mendekatkan diri ke wajah Sansan. Penisnya yang keras mengacung tepat di wajah Sansan.
“Tadi neng ga mau, bukan?” pancing Pak Tomi. Sansan mendekatkan hidungnya ke ujung penis Pak Tomi. Menyentuh tepat di lubang kecil penis Pak Tomi. Ia menghirup perlahan aroma penis yang khas sambil memejamkan mata. Ujung hidungnya merambat ke pangkal penis, pipi Sansan pun menempel ke batang penis Pak Tomi.
“Sekarang aku mau pak. Sampe masuk kontol bapak ke memek aku juga aku mau.” Nafas Sansan mulai memelan, “aku emut lagi ya pak.” Pak Tomi merubah posisinya, ia menyandarkan punggungnya ke tembok dengan posisi terduduk.
Sansan menundukkan wajahnya mendekati penis dengan posisi menungging di atas kasur. Jari jemarinya yang manis mulai menyentuh lembut kulit penis Pak Tomi. Digenggamnya penis dengan satu tangan. Sansan mulai menggerak-gerakkan tangannya ke atas-bawah.
“aacc..chhh… eehhh.. aahhh nenggg…”
“Enak ya pakk..” ucap Sansan sambil menatap genit ke arah Pak Tomi.
“eemmmhhhh…” sinta menjulurkan lidahnya. Menjilat ujung kepala penis yang semakin mengeras.
Tak lama jilatan sinta berubah menjadi emutan dan hisapan di kepala penis dengan tangannya yang masih terus mengocok. Pak Tomi terus mendesah semakin keras. Lidah sinta bermain-main di dalam mulutnya, mengelus-elus kepala penis. Tiba-tiba Pak Tomi bergetar kuat. “aachhhhh….” Sebuah erangan panjang keluar dari mulutnya. Cairan sperma meleleh dari dalam penis.
“mmpphhhh..” Sansan masih mengocok penis dengan tangan kanannya, mulutnya masih diisi kepala penis Pak Tomi menanti tetesan terakhir sperma. Ia melepaskan penis dari mulutnya, mengangkat kepalanya menghadap Pak Tomi dengan wajah penuh senyum. “Liatin sperma bapak dong, neng.” Pinta Pak Tomi. Sinta membuka mulutnya, menjulurkan lidahnya yang dipenuhi cairan berwarna putih susu.
Sansan kembali menutup mulutnya. Tidak segera menelan sperma, ia justru memainkan sperma itu di dalam mulutnya. Menikmati aroma dan rasa sekaligus sensasi tersebut. Glek… sperma Pak Tomi menuju perut Sansan. Sansan menyeringai dengan wajah penuh kegembiraan. Ia mendekat ke Pak Tomi, melupat bibir penjaga kosannya.
“Seneng banget sih, neng?” Tanya Pak Tomi sambil mengelus payudara yang tidak tertutupi apapun.
“Sperma bapak enak.” Ucap Sansan dengan sedikit malu-malu sambil merebahkan tubuhnya di atas dada Pak Tomi.
“Istirahat dulu ya neng. Nanti lanjutin.”
“Lanjutin apa pak?” Tanya Sansan sambil melihat Pak Tomi.
Tidak langsung menjawab, Pak Tomi menggerakkan tangannya. Menyentuh bibir vagina Sansan, kemudian menyelusupkan jari tengahnya ke sela bibir vagina. “lanjutin ini. Ngeringin memek kamu. Nih, basah.”
“ahhhh… mpphhhh…” eluh Sansan sambil menggigit bibir bawahnya, “ga ah, pak. Malu aku ngentot sama penjaga kosan.” Ucap Sansan sambil memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut di vaginanya.
Cerita Seks - Bercinta dengan 2 saudara tiriku yang bergairah
“Supaya neng mau harus gimana?” Tanya Pak Tomi.
Perlahan paha Sansan menjepit tangan Pak Tomi, sementara tangannya mencengkram pergelangan tangan Pak Tomi. Tubuhnya tidak ingin jejari Pak Tomi lepas dari vaginanya.
“Katanya tadi ga mau dilanjutin.” Protes Pak Tomi.
“Aku binal ya pak?” Tanya Sansan dengan wajah sayu.
“Neng Sansan itu bispak. Bisa bapak entot kapan aja bapak mau.”
“aahhhh.. bapak jahat.. mmpphhh.. masukin jarinya pakk…”
“Lanjutin nanti ya neng. Istirahat dulu.”
“Bapak bilang yang mesum-mesum dulu dong.” Pinta Sansan.
“Memek Neng Sansan mau dijilatin nanti?” Sansan mengangguk, “Dimasukin kontol bapak? Kita ngentot.”
“Mau banget, pak” jawab Sansan dengan berbisik.
“Sampai puas!” ucap Pak Tomi ikut berbisik. Mereka kembali berciuman. Kemudian tertidur bersama.
Pukul 03.00, Sansan masih tidur dengan nyenyak. Dalam mimpinya, Sansan merasakan kenikmatan yang menjalar di seluruh tubuhnya. Entah ia sedang ‘mimpi basah’ atau tidak, tetapi ada eluhan-eluhan yang keluar dari mulutnya. Mmpphhhh… mmpphh…
Sansan mulai sadar di tengah tidurnya. Matanya masih terpejam, tetapi Ia semakin menyadari kenikmatan di sekujur tubuhnya. Membiarkan tubuhnya menggelinjang kenikmatan. Sansan tidak ingin membuka matanya, kemudian terbangun dari tidurnya. Ia ingin menikmati tidurnya yang penuh kenikmatan.
Lambat laun kesadarannya semakin menguat saat mendengar suara-suara kecupan. Sansan mulai teringat bahwa Ia sedang tidur dengan Pak Tomi tanpa busana yang menjanjikan kelanjutan permainan mereka. Sansan membuka matanya untuk meyakinkan diri tentang apa yang dari tadi Ia rasakan. “Pakkk… mmpphhhh.. curannggg..” ucap Sansan sambil menggigit bibir bawahnya menatap Pak Tomi yang sedang menjilat vagina Sansan.
Pak Tomi mengangkat wajahnya. “Neng tidurnya nyenyak banget. Bapak ga enak banguninnya.” Tangan Pak Tomi mengelus-elus paha Sansan. “Jadi bapak mulai aja duluan.” Ucapnya sambil tersenyum. Sansan membalas dengan senyum manis, kedua tangannya menjulur ke arah Pak Tomi.
Pak Tomi mendekat, mendekap dalam pelukan Sansan.
“Enak ya, neng. Kayak mimpi melayang-layang.”
“Mmm..” Jawab Sansan dengan suara menggoda.
Mereka mulai bercumbu, dengan tangan saling meraba tubuh lawannya. Mmpphhh… hhmmmm…. Eluh masing-masing. Pak Tomi mulai menurunkan kecupannya ke leher, dada, payudara, puting, perut, hingga ia kembali berkonsentrasi ke vagina Sinta. Diawali dengan kecupan kecil.
“mmpphhh.. pakkk…” kemudian jilatan panjang, menjilat seluruh bagian luar vagina Sinta. Sinta mendesah semakin keras. Akhirnya Pak Tomi memulai emutan di vagina Sinta, lidahnya menjulur masuk menjilat-jilat bagian dalam.
“aaacchhh… ennakkk pakk.. eehhhmmpphhh…”
Slurrppp… slurrppp.. jilatan, hisapan, dan emutan Pak Tomi bersuara semakin keras. Tubuh Sansan tidak sanggup menahan kenikmatan dari vaginanya. Ia mengangkat pantatnya, mendorong vaginanya ke mulut Pak Tomi yang sedari tadi menempel, seakan menginginkan lebih. Pak Tomi paham betul, Ia mengangkat wajahnya, kemudian meletakkan jari jemarinya di bibir vagina Sansan.
“Haahhh… aahhh..” nafas Sansan memburu, “Iya begitu pakk.. eemmppphhh…” Sansan menengadahkan wajahnya sambil mendesah saat jari tengah Pak Tomi menekan dan mengelus klitorisnya. Pak Tomi mendekatkan wajahnya ke Sansan, Sansan menyambut dengan ciuman begitu ganas. Nafsu telah menguasai tubuhnya.
Tangan Pak Tomi sudah terjepit kuat paha Sansan, hanya jari jemarinya yang masih bisa bermain-main di vagina Sansan . Sansan terus menggelinjang kuat dengan suara desahan yang tertahan akibat berciuman dengan Pak Tomi, merapatkan tangannya di punggung Pak Tomi.
“Acchhhh… Pakkk, enakkk.. mmpphhhh..” lenguh Sansan melepaskan ciumannya. Pak Tomi semakin bersemangat ketika melihat ekspresi wajah Sansan dipenuhi nafsu. Membayangkan seorang wanita yang usianya belum mencapai setengah usia Pak Tomi, dipenuhi nasfu ingin bersetubuh. Pak Tomi mempercepat gesekan jarinya di vagina Sansan.
“Aaaaccchhhhh….” Desahan panjang Sansan disertai tubuhnya yang tiba-tiba menjadi kaku. Pahanya mencengkram kuat tangan Pak Tomi hingga tidak bisa bergerak. Cairan bening keluar dari vagina Sansan. Wajahnya meringis.
Ia melonggarkan pahanya, melepaskan tangan Pak Tomi. Sesekali tubuhnya masih mengejang, sementara dari vaginanya masih mengeluarkan cairan kenikmatan. Wajahnya masih dipenuhi ketegangan, hingga akhirnya senyum kepuasan menghiasi wajahnya.
“Enak banget, pak.” Ucap Sansan dengan vagina yang masih menetesnya cairannya.
“Iya, bapak suka liat kamu lagi nafsu begitu.” Pak Tomi mendiamkan Sansan untuk beristirahat sejenak.
5 menit berlalu, mereka berbincang-bincang tertutama mengenai pengalaman Sansan bersetubuh dengan lelaki lain. Sansan merasa malu membicarakan hal tersebut, tetapi karena nafsunya masih tinggi membuatnya tidak lagi peduli.
“Pak Tomi ga nikah?” Tanya Sansan sambil mengelus-elus penis Pak Tomi.
“Ada yang muda-muda kayak Neng Sansan buat apa nikah.” Jawab Pak Tomi membiarkan penisnya tetap mengeras. Mendengar jawaban tersebut, Sansan teringat Mbak Wulan dan 3 mahasiswi lainnya yang dulu menempati kosan ini.
“Mmm.. Pantesan Mbak Wulan sama yang lain dulu betah banget ya ngekos disini. Jadi gara-gara ini.” Ucap Sansan sambil mengocok penis Pak Tomi,
“Enak ya pak. Bisa ngentotin mahasiswi cantik terus.” Ketus Sansan. Selain dirinya masih ada 2 mahasiswi yang saat ini menempati kosan tersebut. Apa Sasha dan Nadya pernah begini juga ya? Tanya Sansan dalam pikirannya.
Pak Tomi merubah posisinya, jari tangannya menyentuh bibir vagina Sansan yang masih basah. “Udah ga sabar ya neng dimasukin kontol bapak?” Sansan hanya mengangguk pelan, wajahnya tidak mampu menutupi kegembiraan atas pertanyaan Pak Tomi.
Sansan mengambil kondom di laci meja belajarnya. Dengan penuh kasih sayang, ia mengelus-elus penis Pak Tomi kemudian mengulum, memastikan penis itu telah mengeras kuat. Kondom tipis dengan perlahan disarungkan ke penis Pak Tomi. Sansan tersenyum tipis, membayangkan kenikmatan yang akan didapatnya.
Pak Tomi memposisikan diri di atas tubuh Sansan . Dengan paha terbuka, Sansan tidak sabar menanti penis memasuki liang vaginanya. Kepala penis Pak Tomi menempel dan menggesek-gesek bibir vagina Sansan . “Neng, ga mau masuk nih. Mesti dibujuk dulu.” Ucap Pak Tomi menahan jegolak nafsunya menyetubuhi Sansan .
Sansan paham maksud Pak Tomi, Ia menggenggam pinggul Pak Tomi. Tetapi bukannya langsung menarik pinggul tersebut agar penis Pak Tomi masuk, Sansan mengawalinya dengan raut wajah penuh nafsu. “Pakkk… Masukin kontolnya ke memek aku yah.” Ucap Sansan dengan nada memohon, “Aku udah ga kuat. Pengen ngentot, pakk.” Sansan mulai menarik pinggul Pak Tomi. Nafsu Pak Tomi meningkat mendengar permintaan Sansan, Ia pun mulai mendorong penisnya.
Penis Pak Tomi mulai menjelajahi liang vagina Sansan. “Uughhh.. Neng, enak banget memeknya. Mmpphhh..”
“Dorong terus pak. Masukin semuanya. Kontol bapakk kerr..ass bangett.. mmpphhhh..” Ucap Sansan diakhiri desahan.
Perlahan seluruh penis Pak Tomi masuk ke dalam vagina Sansan. Mereka berdua bercium seperti sepasang kekasih. “Ayo, pak. Kocokin ke dalem. Aku suka kontol bapak.” Rajuk Sansan. Pak Tomi tersenyum senang, kemudian mulai menarik penisnya. Mmpphhhh… keduanya berdesah.
Pak Tomi memulai persetubuhannya dengan tempo perlahan. Ia menarik dan mendorong penisnya perlahan untuk menikmati betul vagina Sansan yang masih sempit. Sesekali Pak Tomi mendorong dalam penisnya, hingga Sansan mendesah panjang. Perlahan Pak Tomi meningkatkan kecepatannya menggesek vagina Sansan.
“Accchhhh… iya pak. Terus pak.. enakkk.. eeuuhhhh.. mmpphhhh.. kontol bapak ennaaakkk…” Sansan mulai merancau saat gesekan penis Pak Tomi semakin cepat. Nafas keduanya semakin menggebu.
“Memek neng sempit banget.. aaccchhhh… mmppphhhh…”
“Iya pakkk… teruss.. uugghhhh… kocok terus pakkk..” Pak Tomi semakin cepat mengeluar-masukkan penisnya.
“Tengkurep neng. Aahhhh…”
“Iyah pakkk… accchhh… jangan dilepas pak kontolnya.. enak bangettt…” Sansan membalik tubuhnya tanpa melepas penis dari vaginanya. Pak Tomi memandangi bongkahan pantat putih bersih dengan penisnya yang keluar-masuk vagina Sansan. Nafsunya menggila. Ia mengocok semakin cepat.
“Accchhhh, enakan pake jari ato kontol, nenggg?” Tanya Pak Tomi dengan nafas menggebu.
“Kontol… Sansan suka pakkeee konn.. toll bapak.. aaaahhhh.. terus pak..”
Pak Tomi mengangkat pinggul Sansan, ingin Sansan menungging. Pak Tomi terus mengocok vagina Sansan yang semakin basah hingga terdengar suara kecipak air.
“Uuughhhh… ga kuat pakkk… aacccchhhhh.. oooghhhh…” Tubuh Sansan bergetar, ada lelehan cairan keluar dari vaginanya. Pak Tomi menahan penisnya di dalam tanpa gerakan. Menidurkan Sansan dalam posisi terkelungkup. Pak Tomi menindih tubuh Sansan , sambil menggoyang-goyangkan penisnya perlahan.
“hhaaahhhh… enak banget pak.” Pak Tomi mengecup pipi Sansan.
“Mau lagi neng?”
“Sampe bapak puas. Memek aku buat kontol bapak.” Ucap Sansan sambil mencium bibir Pak Tomi.
Pak Tomi mulai kembali mengocok vagina Sansan dengan penisnya. Tangannya menyelusup ke payudara Sansan . Meremas kuat tetapi lembut. Nafas Sansan kembali meningkat. Ia melirik kebelakang, melihat pantat Pak Tomi yang hitam bergoyang naik-turun. Sementara pantatnya sendiri tertindih Pak Tomi. Sansan menjulurkan tangannya, mengelus pantat Pak Tomi. “Uuughhhh.. mmppphhh.. terusss pakk. Entotin akuuu..” rancau Sansan sambil memejamkan matanya menikmati hujaman penis Pak Tomi.
Pak Tomi kembali mengangkat pinggul Sansan. Menginginkan posisi itu kembali. “aacchhh… pakkk udah mau keluuarr?” Tanya Sansan dengan nafsu terus menggebu. “Iya neng.. accchhh… sebentar lagii…” Pak Tomi mempercepat kocokannya.
Sansan menggigit bantal di depan wajahnya. Menahan kenikmatan di sekujur tubuhnya. Sementara tangannya meremas-remas kain sprei hingga sangat berantakan. “Ooohhhh,,, ooogghhh…. Pakkk ga kuaattt. Mau keluar lagiii.. oouugghhhh…” lenguh Sansan tidak mampu menahan diri. “Iya, nengg. Bareng sama bapak.. aacchhhh…”
Pak Tomi menekan dalam penisnya ke vagina Sansan. Spermanya keluar tertahan kondom yang dikenakan. Sementara vagina Sansan kembali mengeluarkan cairan bening. Keduanya melenguh bersamaan. Panjang. Terdengar penuh kenikmatan.
Sansan kembali tertidur dengan posisi terkelungkup, sementara Pak Tomi menindih di atasnya. Penisnya tetap berada di dalam vagina Sansan yang masih berkedut. Tubuh keduanya dibasahi keringat yang keluar dari pori-pori.
“Enak, neng?”
“Enak banget pak. Makasih ya.” Jawab Sansan sambil mencium bibir Pak Tomi.
“Bapak ke kamar ya neng.” Ucap Pak Tomi sambil mencabut penisnya. Melepaskan kondomnya kemudian membuangnya di tempat sampah.
“Iya pak. Aku mau langsung mandi. Ada kuliah pagi.” Jawab Sinta. Pak Tomi segera mengenakan pakaiannya kemudian kembali ke kamarnya setelah sebelumnya mencium Sansan.
Sansan mengambil handuknya di atas rak. Menuju kamar mandi, menutup rapat pintunya. Ia melihat tumpukan pakaian dalam yang kotor. Celana dalam Pak Tomi ada di sana. Sansan meremas celana dalam itu. Ia memikirkan apa yang baru saja selesai Ia dan Pak Tomi lakukan. Memalukan, tetapi dirinya sendiri tidak mampu menahan gejolak nafsu. Sansan mendekatkan celana dalam itu ke hidungnya, teringat saat-saat hidungnya menyentuh ujung kepala penis Pak Tomi. Sansan tersenyum. SELESAI.













