Togel212 12naga
Sarana365 RoyalKasino
ToyotaQQ EraQQ
close
Situs togel online terpercaya
close
Situs togel online terpercaya
Situs Agen Poker Permainan Promo Bank & Rating Min. Depo Link Daftar
Togel212 Togel, Slot Games, Casino, Sportsbook, Sabung Ayam, Tangkas, Poker & Domino Diskon Togel Terbesar, Mega Poin Reward, Hadiah Angka Unik, Cashback (15%, 20%, 212%), Rollingan 0.8%, Turn Over 0.3% & Bonus Refferal (1%, 3%) BCA, BNI, BRI, Mandiri, Danamon & CIMB Niaga ★★★★★ Rp.25.000
Situs Togel Online Terpercaya
12Naga Sportsbook, Casino, Poker, Domino, Togel, Slot Games, Sabung Ayam & Tangkas Cashback (Special, 12%, 12%), Win Up 1,2Jt, Parlay 12%, Rollingan 1,2%, Turnover 0.5% & Refferal 1.2% BCA, BNI, BRI, Mandiri, Danamon & CIMB Niaga ★★★★ Rp.25.000
12Naga
Sarana365 Sportbook, Togel, Poker, QQ, Live Casino & Slot Game Bonus Deposit, Cashback (3%, 15%, 100%), Komisi 0.5%, Refferal 3%, Rollingan 0.8%, Turnover 0.3% & Diskon Togel BCA, BNI, BRI, Mandiri, Danamon & CIMB Niaga ★★★★ Rp.50.000
Sarana365
RoyalKasino Baccarat, Roulette, Sicbo, Dragon Tiger & Slot Game Komisi Rollingan 0.8%, Cashback 2.5% & Bonus Refferal 3% BCA, BNI, BRI, Mandiri, Danamon & CIMB Niaga ★★★★★ Rp.25.000
RoyalKasino
ToyotaQQ Poker, AduQ, Capsa Susun, Domino99, Bandar Poker, BandarQ & Sakong Bonus Turn Over 0.3% & Bonus Komisi Referral 20% BCA, BNI, BRI, Mandiri, Danamon & CIMB Niaga ★★★ Rp.20.000
ToyotaQQ
EraQQ Poker, Bandar Poker, Domino, BandarQ Bonus Komisi Referral 20% & Bonus Turn Over 0.3% BCA, BNI, BRI, Mandiri, Danamon & CIMB Niaga ★★★ Rp.20.000
EraQQ


Send Button Widget

Friday, April 20, 2018

Menikmati perawan anak SMP

www.togel212.net

Namaku Aldi aku bekerja sebagai kurir antar di salah satu perusahaan swasta daerah Bali, suatu hari aku mendapat perintah dari atasan untuk mendatangi rumah Ibu Yati, menurutnya ada barang yang bukan miliknya aku pun datang kerumahnya untuk mengambil paket yang salah itu. Dengan mengendarai sepeda motor, segera aku meluncur ke alamat tersebut. Sampai di rumah Ibu Yati, aku disambut oleh anaknya yang masih SMP kelas 3, namanya Luna. Karena aku sudah beberapa kali mengirim barang ke rumahnya maka tentu saja Luna segera mempersilahkanku masuk ke dalam.

Pada saat itu suasana di rumah Ibu Yati sepi sekali, hanya ada Luna yang masih mengenakan seragam sekolah, kelihatannya dia juga baru pulang dari sekolah. 

"Jam berapa sih Ibumu pulang, Lun..?” tanyaku.

“Biasanya sih yah, sore sekitar jam 6aan,” jawabnya. 

“Iya, tadi Om disuruh ke sini buat ngambil barang kirimin yang salah" sambungnya.

"apa paketnya kamu tau ada dimana ?" tanyaku.

"Aku kurang tau juga om, nanti tunggu mama pulang ke rumah saja ya.." 

"baiklah jika begitu" balasku

15 menit lamanya menunggu tiba" luna keluar dari kamarnya lalu berkata padaku..

"oom tolong dong antena tvku error kayanya .." mintanya padaku.

"coba oom liat dulu ya.." jawabku sambil melihat posisi antennya.

"bentar ya oom aku kekamar sebentar.." katanya. 

Lalu pada waktu itu Luna sudah mengganti baju seragam sekolahnya dengan kaos longgar ala Bali. Kedua tangan Luna terangkat ke atas memegangi tangga, akibatnya kedua lengan kaosnya melorot ke bawah, dan ujung kerahnya yang kedodoran menganga lebar. Pembaca pasti ingin ikut melihat karena dari atas pemandangannya sangat transparan. Ketiak Luna yang ditumbuhi bulu-bulu tipis sangat sensual sekali, lalu dari ujung kerahnya terlihat gumpalan payudaranya yang kencang dan putih mulus.

Batang kemaluanku seketika berdenyut-denyut dan mulai mengeras. Sebuah pemandangan yang merangsang. Luna tidak memakai BH, mungkin gerah, payudaranya berukuran sedang tapi jelas kelihatan kencang, namanya juga payudara remaja yang belum terkena polusi. Dengan menahan nafsu, aku pelan-pelan menuruni tangga sambil sesekali mataku melirik ke bawah. Luna tampak tidak menyadari kalau aku sedang menikmati keindahan payudaranya. Tapi yah.. sebaiknya begitu. Gimana jadinya kalau dia tahu lalu tiba-tiba tangganya dilepas, dijamin minimal pasti patah tulang.

Yang pasti setelah selamat sampai ke bumi, pikiranku jadi kurang konsentrasi pada tugas. Aku baru menyadari kalau sekarang di rumah ini hanya ada kami berdua, aku dan seorang gadis remaja yang cantik. Luna memang cantik, dan tampak sudah dewasa dengan mengenakan baju santai ketimbang seragam sekolah yang kaku. Seperti biasanya, mataku menaksir wanita habis wajah lalu turun ke betis lalu naik lagi ke dada. Kelihatannya pantas diberi nilai 99,9. Sengaja kurang 0,1 karena perangkat dalamnya kan belum ketahuan haha~~~.

“Oom kok memandang saya begitu sih.. saya jadi malu dong..” katanya setengah manja sambil mengibaskan majalah ke mataku.

 “Wahh… sorry deh Lun… habis selama ini Oom baru menyadari kecantikanmu,” sahutku sekenanya, sambil tanganku menepuk pipinya.

Wajah Luna langsung memerah, barangkali tersinggung, emang dulu-dulunya nggak cakep. “Idihh… Oom kok jadi genit deh..” Duilah senyumnya bikin hati gemas, terlebih merasa dapat angin harapan. Setelah itu aku mencoba menyalakan TV dan langsung muncul RCTI Oke. Beres deh, tinggal merapikan kabel-kabel yang berantakan di belakang TV.


“Coba Lun.. bantuin Oom pegangin kabel merah ini…” Dan karena posisi TV agak rendah maka Luna terpaksa jongkok di depanku sambil memegang kabel RCA warna merah.

Kaos terusan Luna yang pendek tidak cukup untuk menutup seluruh kakinya, akibatnya sudah bisa diduga. Pahanya yang mulus dan putih bersih berkilauan di depanku, bahkan sempat terlihat warna celana dalam Luna. Seketika jantungku seperti berhenti berdetak lalu berdetak dengan cepatnya.
Dan bertambah cepat lagi kala tangan Luna diam saja saat kupegang untuk mengambil kabel merah RCA kembali. Punggung tangannya kubelai, diam saja sambil menundukkan wajah. Aku pun segera memperbaiki posisi. Kala tangannnya kuremas Luna telah mengeluarkan keringat dingin. Lalu pelan-pelan kudongakkan wajahnya serta kubelai sayang rambutnya. “Luna, kamu cantik sekali.. Boleh Oom menciummu?” kataku kubuat sesendu mungkin. Luna hanya diam tapi perlahan matanya terpejam. Bagiku itu adalah jawaban. Perlahan kukecup keningnya lalu kedua pipinya.
Dan setengah ragu aku menempelkan bibirku ke bibirnya yang membisu. Tanpa kuduga dia membuka sedikit bibirnya. Itu pun juga sebuah jawaban. Selanjutnya terserah anda, segera kulumat bibirnya yang empuk dan terasa lembut sekali. Lidahku mulai menggeliat ikut meramaikan suasana. Tak kuduga pula Luna menyambut dengan hangat kehadiran lidahku, Luna mempertemukan lidahnya dengan milikku. Kujilati seluruh rongga mulutnya sepuas-puasnya, lidahnya kusedot, Luna pun mengikuti caraku. Pelan-pelan tubuh Luna kurebahkan ke lantai. Mata Luna menatapku sayu. Kubalas dengan kecupan lembut di keningnya lagi. Lalu kembali kulumat bibirnya yang sedikit terbuka.
Tanganku yang sejak tadi membelai rambutnya, rasanya kurang pas, kini saat yang tepat untuk mulai mencari titik-titik rawan. Kusingkap perlahan ujung kaosnya mirip ular mengincar mangsa. Karena Luna memakai kaos terusan, pahanya yang mulus mulai terbuka sedikit demi sedikit. Sengaja aku bergaya softly, karena sadar yang kuhadapi adalah gadis baru berusia sekitar 14 tahun. Harus penuh kasih sayang dan kelembutan, sabar menunggu hingga sang mangsa mabuk. Dan kelihatannya Luna bisa memahami sikapku, kala aku kesulitan menyingkap kaosnya yang tertindih pantat, Luna sedikit mengangkat pinggulnya. Wah, sungguh seorang wanita yang penuh pengertian. “Ahhh.. Ahhh..” hanya suara erangan yang muncul dari bibirnya kegelian ketika mulutku mulai mencium batang lehernya.
Sementara tanganku sedikit menyentuh ujung celana dalamnya lalu bergeser sedikit lagi ke tengah. Terasa sudah lembab celana dalam Luna. Tanganku menemukan gundukan lunak yang erotis dengan belahan tepat ditengah-tengahnya. Aku tak kuasa menahan gejolak hati lagi, kuremas gemas gundukan itu. Luna memejamkan matanya rapat-rapat dan menggigit sendiri bibir bawahnya. Hawa yang panas menambah panas tubuhku yang sudah panas. Segera kulucuti bajuku, juga celana panjangku hingga tinggal tersisa celana dalam saja. Tanpa ragu lagi kupelorotkan celana dalam Luna .
Duilah.. Baru kali ini aku melihat bukit kemaluan seindah milik Luna. Luar biasa.. padahal belum ada sehelai bulu pun yang tumbuh. Bukitnya yang besar putih sekali. Dan ketika kutekuk lutut Luna lalu kubuka kakinya, tampak bibir kemaluannya masih bersih dan sedikit kecoklatan warnanya. Luna tidak tahu lagi akan keadaan dirinya, belaianku berhasil memabukkannya. Ia hanya bisa medesah-desah kegelian sambil meremasi kaosnya yang sudah tersingkap setinggi perut. Begitulah wanita. Gam-gam-sus (gampang gampang susah) apa sus-sus-gam (susah susah gampang).
Tidak sabar lagi aku membiarkan sebuah keindahan terbuka sia-sia begitu saja. Aku segera mengarahkan wajahku di sela-sela paha Luna dan menenggelamkannya di pangkal pertemuan kedua kakinya. Mulutku kubuka lebar-lebar untuk bisa melahap seluruh bukit kemaluan Luna. Bau semerbak tidak kuhiraukan, kuanggap semua kemaluan wanita yah begini baunya. Lidahku menjuluri seluruh permukaan bibir kemaluannya. Setiap lendir kujilati lalu kutelan habis dan kujilati terus. Kujilati sepuas-puasnya seisi selangkangan Luna sampai bersih. Lidahku bergerak lincah dan keras di tengah-tengah bibir kemaluannya. Dan ketika lidahku mengayun dari bawah ke atas hingga tepat jatuh di klitorisnya, Kujepit klitorisnya dengan gemas dan lidahku menjilatinya tanpa kompromi. Luna tak sanggup lagi untuk berdiam diri. Badannnya memberontak ke atas-bawah dan bergeser-geser ke kiri-kanan.
Segala ujung syarafnya telah terkontaminasi oleh kenikmatan yang amat sangat dashyat. Sebuah kenikmatan yang bersumber dari lidahku mengorek klitorisnya tapi menyebar ke seantero tubuhnya. Luna sudah tidak mengenal lagi siapa dirinya, boro-boro mikir, untuk bernafas saja tidak bisa dikontrol. Aku jadi semakin ganas dan melupakan softly itu siapa. Batang kejantananku sudah amat sangat besar bergemuruh seluruh isinya. Demi melihat Luna tersenggal-senggal, segera kutanggalkan modal terakhirku, celana dalam. Tanpa ba. bi. bu. be. bo segera kuarahkan ujung kemaluanku ke pangkal selangkangan Luna. Sekilas aku melihat Luna mendelik kuatir melihat perubahan perangaiku.
Batang kemaluanku memang kelewatan besarnya belum lagi panjangnya yang hampir menyentuh pusar bila berdiri tegak. Luna kelihatannya ngeri dan mulai sadar ingatannya, kakinya agak tegang dan berusaha merapatkan kedua kakinya. “Ampun Oom.. jangan Ooommm.. ampun Oommm.jangannn…” Tangan Luna mencoba menghalau kedatangan senjataku yang siap mengarah ke pangkal pahanya. Merasa mendapat perlawanan, sejenak aku jadi agak bingung, tapi untunglah aku memiliki pengalaman yang cukup untuk menghadapinya. Segera aku meminta maaf sambil tanganku kembali membelai rambutnya yang terurai agak acak-acakan. “Nita takut Oom. Nanti kalau Mama tahu pasti Nita dimarahin. Dan lagi Nita nggak pernah kayak ginian. Nita juga jadi malu..” Katanya setengah mau menangis dan membetulkan kaosnya untuk menutupi tubuhnya. “Jangan kuatir Nit. Oom tidak bermaksud jahat terhadap kamu. Oom sayang sekali sama Nita. Dan lagi Nita jangan takut sama Oom. Semua orang cepat atau lambat pasti akan merasakan kenikmatan hubungan ‘beginian’. Jangan takut ‘beginian’ karena ‘beginian’ itu enak sekali.”
“Iya, tapi Nita nggak tahu harus bagaimana dan kenapa tahu-tahu Nita jadi begini..?” Air mata Luna mulai mengalir dari pojok matanya. Melihat itu aku segera memeluknya agar bisa menenangkannya. Agak lama aku memberi ceramah dan teori edan secara panjang lebar, sampai akhirnya Luna bisa memahami seluruhnya. Dan sesekali senyumnya mulai muncul lagi. “Coba sekarang Nita belajar pegang ‘anunya’ Oom, bagus khan,” aku meraih tangannya lalu membimbingnya ke batang kejantananku. Tangannya kaku sekali tapi setelah perlahan-lahan kuelus-eluskan pada batang kejantananku, otot tangannya mulai mengendor. Lalu tangannya mulai menggenggam batang kejantananku.
Pelan-pelan tangannya kutuntun maju-mundur. Kelembutan tangannya membuat batang kejantananku mulai bergerak membesar, sampai akhirnya tangan Luna tidak cukup lagi menggenggamnya. Dan Luna kelihatan menikmatinya, tanpa kuajari lagi tangannya bergerak sendiri. “Ahhh.. enak sekali Nit.. aaahhh.. kamu memang anak yang pintar.. ahhhh..” mulutku tak sanggup menahan kenikmatan yang mulai menjalari seluruh syarafku. Sementara itu tangan kiriku mulai meremas payudaranya yang masih tertutup kaos Bali yang tipis. Belum pernah aku meremas payudara sekeras milik Luna. Tangan kananku yang satu meraih kepalanya lalu dengan cepat kulumat bibirnya. Lidahku menjulur keluar menelusuri setiap sela rongga mulutnya. Hingga akhirnya lidah Luna pun mengikuti yang kulakukan. Dari matanya yang terpejam aku bisa merasakan kenikmatan tengah membakar tubuhnya.
Segera aku meminta Luna untuk melepas kaosnya agar lebih leluasa. Dan tanpa ragu-ragu Luna segera berdiri lalu menarik kaosnya ke atas hingga melampaui kepalanya. Batang kejantananku semakin berdenyut-denyut menyaksikan tubuh mungil Luna tanpa mengenakan selembar benang. Tubuhnya yang sintal dan putih bersih membakar semangatku. Betul-betul sempurna. Kedua payudaranya menggelembung indah dengan puting yang mengarah ke atas mengingatkanku pada payudara Holly Hart (itu lho salah satu koleksi Playboy). “Nit, tubuhmu luar biasa sekali.. Hebat!” Pujianku membuat wajahnya memerah barangkali menahan malu. “Oomm, boleh nggak Luna mencium ‘itu’nya Oom?” Luna tersipu-sipu menunjuk ke selangkanganku. Rasanya tidak etis kalau aku menolaknya. Lalu sambil duduk di sofa aku menelentangkan kedua kakiku. “Tentu saja boleh kalau Luna menyukainya..” Kubikin semanis mungkin senyumku. Luna pun mengambil posisi dengan berjongkok lalu kepalanya mendekati selangkanganku.
Mulanya hanya mencium dan mengecup seputar kepala batang kejantananku. Pelan-pelan lidahnya mulai ikut berperan aktif menjilat-jilatinya. Luna kelihatan keenakan mendapat mainan baru. Dengan rakus lidahnya menyusuri sekeliling batang kejantananku. Sensasi yang luar biasa membuatku gemas meremasi kedua payudaranya. “Aaduuhhh… enak sekali Nit.. Teruss.. Nitt, coba ke sebelah sini,” kataku sambil menunjuk ke buah pelirku. Luna segera paham lalu mejulurkan lidahnya ke pelirku. Luna menggerakkan lidahnya ke kanan-kiri atas-bawah. “Oomm, ke kamar Nita aja yuk biar nggak gerah..” Sahutnya mengajak ke kamarnya yang ber-AC. “Terserah Nita aja dehh..” balasku.
Begitu Luna merebahkan tubuhnya ke spring bed, aku tidak mau menunggu terlalu lama untuk merasakan tubuh indahnya. Segera kutindih dan kucumbui. Sekujur tubuhnya tak ada yang kusia-siakan. Terutama di payudaranya yang aduhai. Tanganku seakan tak pernah lepas dari liang kewanitaannya. Setiap tanganku menggosok klitorisnya, tubuh Luna menggerinjal entah mengapa. Sementara itu batang kejantananku seperti akan meledak menahan tekanan yang demikian besarnya. Akhirnya kutuntun batang kejantananku ke arah liang kewanitaan Luna . Liang kewanitaan Luna yang telah kebanjiran sangat berguna sekali, bibir kemaluannya yang kencang memudahkan batang kejantananku menyelinap ke dalam. Sedikit-sedikit kudorong maju. Dan setiap dorongan membuat Luna meremas kain sprei.
Kalau Luna merasa seperti kesakitan aku mundur sedikit, lalu maju lagi, mundur sedikit, maju lagi, mundur, maju, mundur, maju, “blesss…” Tak kusangka liang kewanitaan Luna mampu menerima batang kejantananku yang keterlaluan besarnya. Begitu amblas seluruh batang kejantananku, Luna menjerit kesakitan. Aku kurang menghiraukan jeritannya. Kenikmatan yang tak ada duanya telah merasuki tubuhku. Tapi aku tetap menjaga irama permainanku maju-mundur dengan perlahan. Menikmati setiap gesekan demi gesekan. Liang senggama Luna sempit sekali hingga setiap berdenyut membuatku melayang. Denyutan demi denyutan membuatku semakin tak mampu lagi menahan luapan gelora persetubuhan.
Terasa beberapa kali Luna mengejankan liang kewanitaannya yang bagiku malah memabukkan karena liang kewanitaannya jadi semakin keras menjepit batang kejantananku. Erangan, rintihan, dan jeritan Luna terus menggema memenuhi ruangan. Rupanya Luna pun menikmati setiap gerakan batang kejantananku. Rintihannya mengeras setiap batang kejantananku melaju cepat ke dasar liang senggamanya. Dan mengerang lirih ketika kutarik batang kejantananku.
Hingga akhirnya aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ketika batang kejantananku melaju dengan kecepatan tinggi, meledaklah muatan di dalamnya. batang kejantananku menghujam keras, dan kandas di dasar jurang. Luna pun melengking panjang sambil mendekap kencang tubuhku, lalu tubuhnya bergetar hebat. Sebuah kenikmatan tanpa cela, sempurna Keesokkan harinya aku mendapat telepon dari Ibu Yati. Perasaanku mendadak tegang dan kacau, kuatir beliau mengetahui skandalku dengan anaknya.
Mulanya aku tidak berani menerimanya, tapi daripada Ibu Yati nanti ngomongin semua perbuatanku pada teman sekerjaku, terpaksa kuterima teleponnya dengan nada gemetar. Ternyata ibu Yati hanya ingin memastikan bahwa barang yang salah itu memang bukan miliknya. SELESAI.

http://www.togel212.net/
 situs poker terpercaya