Namanya Laura 21 tahun dia adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak 3 dan 5 tahun. Suaminya, Ridwan 41 tahun, adalah karyawan dari salah satu perusahaan swasta besar di Semarang. Perawakan Laura sebetulnya biasa saja seperti kebanyakan. Yang membuatnya menarik adalah bentuk tubuhnya yang sangat terawat. Buah dadanya tidak terlalu besar, tapi enak untuk dipandang, sesuai dengan pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang bulat.
Kehidupan rumah tangga mereka sangat harmonis, dengan 2 anak yang sedang lucu-lucunya, ditambah dengan posisi yang cukup tinggi di perusahaannya, membuat mereka menjadi keluarga yang cukup di hormati di lingkungan kompleks mereka tinggal. Laura pada dasarnya adalah istri yang sangat setia kepada suaminya. Tidak pernah ada niat berkhianat dalam hati Laura karena dia sangat mencintai suaminya. Tapi ada satu peristiwa yang menjadi awal berubahnya cara berpikir Laura tentang cinta..
Suatu siang, Laura sedang mengasuh anaknya di depan rumah. Dikarenakan kedua anaknya waktu itu berlari jauh dari rumah, maka Laura langsung mengejar mereka. Tapi tanpa disengaja, kakinya menginjak sesuatu sampai akhirnya Laura terjatuh. Lututnya memar, agak mengeluarkan darah. Laura langsung berjongkok dan meringis menahan sakit. Pada waktu itu, Kibo, anak tetangga depan rumah Laura kebetulan lewat mau pulang ke rumahnya. Ketika melihat Laura sedang jongkok sambil meringis memegang lututnya, Kibo langsung lari ke arah Laura.
“Kenapa tante?” tanya Kibo.
“Aduh, lutut saya luka karena jatuh, Boo…” ujar Laura sambil meringis.
“Bantu saya berdiri, Boo…” kata Laura.
“Iya tante,” kata Kibo sambil memegang tangan Laura dan dibimbingnya bediri.
“Boo, tolong bawa anak-anak saya kemari.. Anterin ke rumah saya, ya…” kata Laura.
“Iya tante,” kata Kibo sambil segera menghampiri anak-anak Laura.
Sementara Laura segera pulang ke rumahnya sambil tertatih-tatih. Waktu Kibo mengantarkan anak-anak Laura ke rumahnya, Laura sedang duduk di kursi depan sambil memegangi lututnya.
“Ada obat merah tidak, tante?” tanya Kibo .
“Ada di dalam, Boo,” kata Laura .
“Kita ke dalam saja…” kata Laura lagi sambil bangkit dan tertatih-tatih masuk ke dalam rumah.
Kibo dan anak-anaknya mengikuti dari belakang.
“Ma, Dono ngantuk,” kata anaknya kepada Laura .
“Tunggu sebentar ya, Boo. Saya mau antar mereka dulu ke kamar. Sudah waktunya anak-anak tidur siang,” kata Laura sambil bangkit dan tertatih-tatih mengantar anak-anaknya ke kamar tidur.
Setelah mengantar mereka tidur, Laura kembali ke tengah rumah.
“Mana obat merahnya, tante?” tanya Kibo .
“Di atas sana, Boo…” kata Laura sambil menunjuk kotak obat.
Kibo segera bangkit dan menuju kotak obat untuk mengambil obat merah dan kapas. Tak lama Kibo segera kembali dan mulai mengobati lutut Laura .
“Maaf ya, tante.. Saya lancang,” kata Kibo .
“Tidak apa-apa kok, Boo. Tante senang ada yang menolong,” kata Laura sambil tersenyum.
Kibo mulai memegang lutut Laura dan mulai memberikan obat merah pada lukanya.
“Aduh, perih…” kata Laura sambil agak menggerakkan lututnya.
Secara bersamaan rok Laura agak tersingkap sehingga sebagian paha mulusnya nampak di depan mata Kibo . Kibo terkesiap melihatnya. Tapi Kibo pura-pura tak melihatnya. Tapi tetap saja paha mulus Laura menggoda mata Kibo untuk melirik walau kadang-kadang. Hati Kibo agak berdebar.. Biasanya dia hanya bisa melihat dari kejauhan saja lekuk-lekuk tubuh Laura . Atau kadang-kadang hanya kebetulan saja melihat Laura memakai celana pendek.
Kibo biasanya hanya bisa membayangkan saja tubuh Laura sambil onani. Tapi kini, di depan mata sendiri, paha mulus Laura sangat jelas terlihat. Laura sepertinya sadar kalau mata Kibo sesekali melirik ke arah pahanya. Segera Laura merapikan duduknya dan juga menutup pahanya. Kibo sepertinya terkesima dengan sikap Laura tersebut. Kibo menjadi malu sendiri..
Cerita Seks - Gairah tante Listy
“Sudah saya berikan obat merah, tante…” kata Kibo .
“Iya, terima kasih,” kata Laura sambil tersenyum.
“Sekarang sudah mulai tidak terasa sakit lagi,” ujar Laura lagi sambil tetap tersenyum.
Kibo , 16 tahun, adalah anak tetangga depan rumah Laura . Masih duduk di bangku SMK kelas 1. Seperti kebanyakan anak laki-laki tanggung lainnya, Kibo adalah sosok anak laki-laki yang sudah mulai mengalami masa puber.
“Kenapa kamu nunduk terus, Boo?” tanya Laura.
“Tidak apa-apa, tante…” ujar Kibo sambil sekilas menatap mata Laura lalu menunduk lagi sambil tersenyum malu.
“Ayo, ada apa?” tanya Laura lagi sambil tersenyum.
“Anu, tante.. Maaf, mungkin tadi sempat marah karena tadi saya sempat melihat secara tidak sengaja…” kata Kibo sambil tetap menunduk.
“Lihat apa?” tanya Laura pura-pura tidak mengerti.
“Lihat.. Mm.. Lihat ini tante,” kata Kibo sambil tangannya mengusap-ngusap pahanya sendiri. Laura tersenyum mendengarnya.
“Tidak apa-apa kok, Wan,” kata Laura .
“Kan hanya melihat.. Bukan memegang,” kata Laura lagi sambil tetap tersenyum.
“Lagian, saya tidak keberatan kok kamu melihat paha tante tadi,” kata Laura lagi sambil tetap tersenyum.
“Kamu kan tadi sedang menolong saya memberikan obat,” kata Laura .
“Benar tante tidak marah?” tanya Kibo sambil menatap Laura .
Laura menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum. Kibo pun jadi ikut tersenyum.
“Tante sangat cantik kalau tersenyum,” kata Kibo mulai berani.
“Ihh, kamu tuh masih kecil sudah pintar merayu…” kata Laura.
“Saya berkata jujur loh, tante,” kata Kibo lagi.
“Kamu sudah makan, Boo?” tanya Laura.
“Belum tante. Saya pulang dari rumah teman tadi belum makan,” kata Kibo .
“Makan disini saja, ya.. Temani saya makan siang,” ajak Laura.
“Baik tante, terima kasih,” kata Kibo .
Mereka menikmati makan siang di meja makan bulat kecil. Ketika sedang menikmati makan, tanpa sengaja kaki Kibo menyentuh kaki Laura. Kibo kaget, lalu segera menarik kakinya.
“Maaf tante, saya tidak sengaja,” kata Kibo .
“Tidak apa-apa kok, Boo…” kata Laura sambil matanya nenatap Kibo dengan pandangan yang berbeda.
Ketika kaki Kibo menyentuh kakinya, seperti terasa ada sesuatu yang berdesir dari kaki yang tersentuh sampai ke hati. Laura merasakan sesuatu yang lain akan kejadian tak sengaja itu.. Tiba-tiba Laura merasakan ada sesuatu keinginan tertentu muncul yang membuat perasaannya tidak menentu. Sentuhan kaki Kibo terasa begitu hangat dan membangkitkan suatu perasaan aneh..
“Kamu sudah punya pacar, Boo?” tanya Laura sambil menatap Kibo .
“Belum tante,” kata Kibo sambil tersenyum.
“Lagian saya tidak tahu caranya mendapatkan perempuan,” ujar Kibo lagi sambil tetap tersenyum. Laura pun ikut tersenyum.
“Pernah tidak kamu punya keinginan tertentu terhadap perempuan?” tanya Laura lagi.
“Keinginan apa tante?” tanya Kibo . Laura tersenyum.
“Kita habiskan dulu makannya. Nanti kita bicara…” kata Laura.
Selesai makan, mereka duduk-duduk di ruang tengah.
“Kamu ada sesuatu yang harus diselesaikan di rumah tidak saat ini?” tanya Laura.
“Tidak ada, tante,” kata Kibo .
“Tadi tante mau tanya apa?” kata Kibo penasaran.
“Begini, apakah kamu suka kepada wanita tertentu? Maksud saya suka kepada tubuh wanita?” tanya Laura.
“Kita bicara jujur saja, ya.. Saya tidak akan bicara pada siapa-siapa kok,” kata Laura lagi.
“Kamu juga mau kan jaga rahasia pembicaraan kita?” kata Laura lagi.
“Iya, tante,” kata Kibo .
“Kalau begitu jawablah pertanyaan tante tadi…” kata Laura sambil tersenyum.
“Ya, saya suka melihat perempuan yang tubuhnya bagus. Saya juga suka tante karena tante cantik dan tubuhnya bagus,” kata Kibo tanpa ragu.
“Maksudnya tubuh bagus apa,” tanya Laura lagi. Kibo agak ragu untuk menjawab.
“Ayolah…” kata Laura sambil memegang tangan Kibo . Tangan Kibo bergetar.. Laura tersenyum.
“Mm.. Saya pernah.. Pernah lihat majalah Playboy, juga.. Juga.. Juga saya pernah lihat VCD porno.. Mm.. Mm.. Saya lihat banyak perempuan tubuhnya bagus…” kata Kibo dengan nafas tersendat.
“Oh, ya? Di VCD itu kamu lihat apa saja,” kata Laura pura-pura tidak tahu, sambil terus menggenggam tangan Kibo yang terus gemetar.
“Mm.. Lihat orang sedang begituan…” kata Kibo .
“Begituan apa?” tanya Laura lagi.
“Ya, lihat orang sedang bersetubuh…” kata Kibo .
Laura kembali tersenyum, tapi dengan nafas yang agak memburu menahan sesuatu di dadanya.
“Kamu suka tidak film begitu?” tanya Laura.
“Iya suka, tante?” kata Kibo sambil menunduk.
“Mau coba seperti di film, tidak?” kata Laura.
Kibo diam sambil tetap menunduk. Tangannya makin gemetar. Laura mendekatkan tubuhnya ke tubuh Kibo . Wajahnya di dekatkan ke wajah Kibo .
“Mau tidak?” tanya Laura setengah berbisik.
Kibo tetap diam dan gemetar. Wajahnya agak tertunduk. Laura membelai pipi anak tanggung tersebut. Lalu diciumnya pipi Kibo . Kibo tetap diam dan makin gemetar. Laura terus menciumi wajah Kibo , lalu akhirnya dilumatnya bibir Kibo .. Lama-lama Kibo mulai terangsang nafsunya. Dengan pasti dibalasnya ciuman Laura.
“Masukkan tangan kamu ke sini…” kata Laura dengan nafas memburu sambil memegang tangan Kibo dan mengarahkannya ke dalam baju Laura.
“Masukkan tangan kamu ke dalam BH saya, Boo.. Pegang buah dada saya,” kata Laura sambil tangannya meremas kontol Kibo dari luar celana.
Sementara tangan Kibo sudah masuk ke dalam BH Laura dan mulai meremas-remas buah dada Laura .
“Mmhh.. Terus sayang…” kata Laura.
“Tangan saya pegal, tante…” kata Kibo polos.
“Uhh.. Kita pindah ke kamar, yuk…” ajak Laura sambil menarik tangan Kibo . Sesampainya di dalam kamar..
“Buka pakaian kamu, Boo…” ujar Laura pun melepas seluruh pakaiannya sendiri.
“Iya, tante…” kata Kibo .
Laura setelah melepas seluruh pakaiannya, segera naik dan telentang di tempat tidur. Kibo terkesima melihat tubuh telanjang Laura. Seumur-umur Kibo , baru kali ini dia melihat tubuh telanjang wanita di depan mata. Apalagi wanita tersebut adalah wanita yang sering di bayangkannya bila onani. Kontol Kibo langsung tegang dan tegak..
“Naik sini, Boo…” kata Laura .
“Iya, tante…” kata Kibo .
“Sini naik ke atas tubuh saya…” kata Laura sambil mengangkangkan pahanya.
Kibo segera menaiki tubuh telanjang Laura. Laura langsung melumat bibir Kibo dan Kibo langsung membalasnyanya dengan hebat. Sementara satu tangan Kibo meremas buah dada Laura yang tidak terlalu besar. Sementara kontol Kibo sesekali mengenai belahan memek Laura.
Cerita Seks - Kisahku dengan ibu tiriku
“Ohh.. Mmhh.. Terus remas.. Terus…” desah Laura sambil memegang tangan Kibo yang sedang meremas buah dadanya, dan tangan mereka bersamaan meremas buah dadanya.
“Ohh.. Sshh…” kata Laura. Kibo pun dengan bernafsu terus meremas dan menciumi serta menjilati buah dada Laura.
“Boo, jilati memek ya, sayang…” pinta Laura.
“Tapi saya tidak tahu caranya, tante,” kata Kibo polos.
“Sekarang dekatkan saja wajah kamu ke memek, lalu kamu jilati belahannya…” kata Laura setengah memaksa dengan menekan kepala Kibo ke arah memeknya.
Kibo langsung menuruti permintaan Laura . Dijilatinya belahan memek Laura sampai tubuh Laura mengejang menahan nikmat.
“Ohh.. Mm.. Ohh.. Terus jilat, sayang…” desah Laura sambil meremas kepala Kibo .
“Boo, kamu jilati bagian atas sini…” kata Laura sambil jarinya mengelus kelentitnya.
Lalu lidah Kibo menjilati habis kelentit Laura .. Laura kembali menggelepar merasakan nikmat yang teramat sangat.
“Teruss.. Sshh.. Ohh…” desah Laura sambil badannya semakin mengejang.
Pahanya rapat menjepit kepala Kibo . Sementara tangannya semakin menekan kepala Kibo ke memeknya. Tak lama..
“Ohh…” desah Laura panjang. Laura orgasme.
“Sudah, Boo.. Naik sini,” kata Laura .
Kibo lalu menaiki tubuh Laura . Laura lalu mengelap mulut Kibo yang basah oleh cairan memeknya. Laura tersenyum, lalu mengecup bibir Kibo .
“Mau tidak kontol kamu saya hisap,” kata Laura .
“Mau tante,” kata Kibo bersemangat.
“Bangkitlah.. Sinikan kontol kamu,” kata Laura sambil tangannya meraih kontol Kibo yang tegang dan tegak.
Kibo lalu mengangkangi wajah Laura. Laura segera mengulum kontol Kibo . Tidak hanya itu, kontol Kibo lalu dijilat, dihisap, lalu dikocoknya silih berganti. Kibo tubuhnya mengejang menahan rasa nikmat yang teramat sangat. Tangannya berpegangan pada pinggiran ranjang.
“Ohh.. Tantee.. Enaakk…” jerit kecil Kibo sambil memompa kontolnya di mulut Laura.
“Masukkin ke memek,ya sayang…” kata Laura setelah dia beberapa lama menghisap kontol Kibo .
Kibo lalu mengangkangi Laura. Sementara tangan Laura memegang dan membimbing kontol Kibo ke lubang memeknya.
“Ayo tekan sedikit, sayang…” kata Laura.
Kibo berusaha menekan kontolnya ke lubang memek Laura sampai akhirnya.. Bless.. Bless.. Bless.. Kontol Kibo berhasil masuk dan mulai memompa memek Laura . Kibo merasakan suatu kenikmatan yang tiada tara pada batang kontolnya.
“Bagaimana rasanya, Boo?” tanya Laura sambil tersenyum dan menggoyang pantatnya.
“Ohh.. Sangat enakk, tanttee…” kata Kibo tersendat sambil memompa kontolnya keluar masuk memek Laura .
Laura tersenyum.. Setelah beberapa lama memompa kontolnya, tiba-tiba tubuh Kibo mengejang. Gerakannya makin cepat. Laura karena sudah mengerti langsung meremas pantat Kibo dan menekankannya ke memeknya. Tak lama.. Crott.. Croott.. Croott.. Croott..
“Ohh.. Hohh…” desah Kibo . Tubuhnya lemas dan lunglai di atas tubuh Laura .
“Udah keluar? Bagaimana rasanya?” tanya tante Laura sambil memeluk Kibo .
“Sangat enak, tante…” kata Kibo .
SELESAI.













